home

Minggu, 27 Februari 2011

PENGARUH KOLKHISIN TERHADAP KERAGAMAN MORFOLOGI, SITOLOGI DAN PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN RAMBUTAN (Nephelium appeceum L.)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Prospek ekonomi yang cerah dari buah eksotic rambutan, ditandai dengan meningkatnya volume pasar ekspor 160% pada tahun 90-an. Buah rambutan yang laku di pasaran adalah buah rambutan yang sesuai selera konsumen (Kotler,1991). Untuk memenuhi selera konsumen petani rambutan menanam varietas yang disukai konsumen saja, dan menebang atau memetik yang tidak disukai dan tidak laku dipasaran. Varietas yang banyak dibudidayakan adalah varietas rapiah dan binjai. Dengan penanaman varietas secara meluas akan mereduksi jenis-jenis lain seperti si nyonya. Ini berarti pengurangan keragaman di dalam jenis atau plasma nutfah rambutan dan tidak sesuai dengan konsep pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Di Indonesia keragaman rambutan relative tinggi. Sudarso et. al. (1996) menuliskan bahwa terdapat 30 kultivar rambutan dan 9 diantaranya adalah jenis unggul. Salah satu kultivar rambutan yang secara tradisional disukai masyarakat ialah rambutan rapiah. Bersama dengan rambutan binjai, rambutan rapiah dapat digolongkan sebagai jenis rambutan terbaik di Indonesia. Buah dari pohon yang sulit untuk diperbanyak dengan cara pencangkokan ini tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya sangat bagus dengan kulit buah berwarna hijau-kuning-merah tidak merata, berambut agak jarang. Rambutan rapiah memiliki daging buah yang tebal, manis, agak kering, kenyal, ngelotok dan dapat bertahan sampai 6 hari setelah dipetik. Rambutan si nyonya, jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai terutama orang Tionghoa, dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi, warna kulit buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus dan rapat, rasa buah manis asam, banyak berair, lembek dan tidak ngelotok.

Peluang pengembangan budidaya rambutan masih terbuka luas dan permintaan yang cukup tinggi. Usaha peningkatan produksi ini hanya dapat tercapai apabila pertumbuhan tanaman dapat ditingkatkan menjadi lebih baik. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah memperlakukan benih rambutan dengan kolkisin. Oleh karena itu perlu adanya suatu pengembangan tanaman rambutan untuk meningkatkan kualitas dan produksi buah. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan pemutasian gen , melalui radiasi mata tunas rambutan binjai (Sudarso et. al. 1999) dan perendaman dengan larutan kolkhisin (poliploidisasi).

Kolkisin (C22H25O6N) merupakan alkaloid yang mempengaruhi penyusunan mikrotubula, sehingga salah satu efeknya adalah menyebabkan penggandaan jumlah kromosom tanaman (terbentuk tanaman poliploid). Tanaman poliploid memiliki pola pertumbuhan,ciri morfologi, anatomi, genetik, fisiologi, dan produktivitas yang berbeda dibandingkan dengan tanaman diploidinya. Umumnya kenampakan tanaman dan produktivitasnya lebih baik, sehingga secara ekonomis lebih menguntungkan (Burns, 1972). Oleh karena untuk menghasilkan tanaman dengan keragaman morfologi, sitologi yang berbeda dan produktivitasnya tinggi dilakukan penelitian dengan perlakuan kolkhisin pada beberapa benih varietas rambutan.

B. Perumusan Masalah

Rambutan (Nephelium sp.) merupakan tanaman buah hortikultural berupa pohon dengan famili Sapindacaeae. Tanaman buah tropis ini dalam bahasa Inggrisnya disebut Hairy Fruit berasal dari Indonesia. Hingga saat ini telah menyebar luar di daerah yang beriklim tropis seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin dan ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim sub-tropis. Dari survey yang telah dilakukan terdapat 22 jenis rambutan baik yang berasal dari galur murni maupun hasil okulasi atau penggabungan dari dua jenis dengan galur yang berbeda. Ciri-ciri yang membedakan setiap jenis rambutan dilihat dari sifat buah (dari daging buah, kandungan air, bentuk, warna kulit, panjang rambut). Dengan adanya perlakuan kolkhisin pada benih rambutan merupakan salah satu usaha untuk membentuk varietas rambutan unggul dan produktivitas yang tinggi.

Berdasarkan uraian di atas, yang akan diteliti sebagai berikut.

1. Bagaimana pengaruh kolkisin terhadap keragaman morfologi dan sitologi jumlah kromosom tanaman rambutan?

2. Bagaimanakah respon pertumbuhan awal tanaman rambutan dengan perlakuan kolkhisin?

3. Berapakah konsentrasi kolkhisin yang tepat untuk peningkatan jumlah kromosom (poliploidisasi) tanaman rambutan?


C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Memperoleh informasi mengenai pengaruh perlakuan kolkhisin terhadap keragaman morfologi sitologi dan pertumbahan awal varietas rapiah dan Si nyonya tanaman Rambutan.

2. Memperoleh informasi respon pertumbuhan awal tanaman rambutan jika diberi perlakuan kolkhisin.

3. Memperoleh informasi mengenai konsentrasi yang tepat untuk peningkatan jumlah kromosom tanaman rambutan.


D. Hipotesis

Pemberian kolkisin berpengaruh terhadap keragaman morfologi sitologi jumlah kromosom (ploidi) dan pertumbuhan awal tanaman rambutan (Nephelium appaceum Linn.).

II. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan Februari 2011 sampai selesai di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, dan Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.


B. Bahan dan Alat Penelitian

1. Bahan Penelitian: biji tanaman rambutan varietas rapiah dan Si nyonya, pasir, tanah, pupuk kandang., kolkhisin, aquadest, alkohol, asam asetat glacial 45 %, HCL 1 N, Asetoorcein 2%, gliserin , cat kuku dan kapas.

2. Alat: bak perkecambahan, polibag ukuran 25 x 25 cm, saringan, pengaduk tanah, paranet, nampan kecil, botol flakon, gelas beker, pipet,silet, gelas benda, gelas penutup, silet, kuas, pipet, pinset, oven, lemari pendingin, kertas tissue, kertas label kamera foto dan mikroskop cahaya.


C. Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis secara deskripsi komparatif (data kualitatif) sedangkan data fenotipe (morfologi) yang merupakan data-data kuantitatif dianalisis dengan uji F taraf 5% dan apabila ada hasil yang berbeda nyata maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%.

Selasa, 01 Februari 2011

"Saksi Keimanan Bangsa Jin"

Sekelompok Jin menyatakan keislamannya yang diterangkan dalam Alquran surah Jin ayat 1-2. "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin mendengarkan Alquran. Lalu, mereka berkata: "Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Karena itu, kami memercayainya dan kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapa pun juga." Peristiwa ini terjadi saat Rasul SAW bersama para sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh. Ketika itu, Rasul SAW membaca surah Ar-Rahman [55] ayat 1-78. Dalam surah Ar-Rahman ini terdapat beberapa ayat yang berbunyi, "Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Ketika ayat ini dibacakan, para jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun.

Se
gala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami." Ibnu Mas'ud menyatakan bahwa ia ikut menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini. Rasulullah SAW bersabda, "Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu, kami pergi bersamanya, dan aku bacakan Alquran kepada mereka." Peristiwa ini terjadi di sebuah masjid yang terletak di kampung Ma'la, tak jauh dari pekuburan kaum Muslim di Kota Makkah. Dan kini, masjid itu dinamakan dengan Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai'ah. Sebab, di tempat inilah para jin berbaiat atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan Kitab-Nya.
Masjid ini menjadi monumen terpenting antara Rasulullah SAW dan para jin. Konon pada saat itu, para Jin berencana menuju Tihamah. Namun, mereka mendengar bacaan Alquran. Mereka sangat takjub mendengarnya, dan kemudian berdialog dengan Rasulullah SAW, lalu menyatakan keimanannya. Mereka kemudian menyampaikan hal itu kepada kaum jin. Penyampaian para jin yang berbaiat dengan Rasul SAW itu diabadikan dalam Alquran surah Al-Ahqaf [46]: 29-32.

Dalam Asbab an-Nuzul karya Jalaluddin as-Suyuthi disebutkan sebab-sebab diturunkannya surah Al-Ahqaf ayat 29-32. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas'ud. Ketika Rasulullah SAW sedang membaca ayat-ayat Alquran, ada beberapa jin (sejumlah riwayat menyebutkan jumlahnya ada sembilan jin dan sebagian lain menyebutkan tujuh jin) yang turut mendengarkan bacaan Alquran dari Rasulullah SAW. Kemudian, salah satu dari jin itu mengingatkan teman-temannya, "Diamlah, perhatikan bacaannya." Sesudah itu mereka kembali kepada kaumnya untuk mengingatkan mereka pada jalan yang benar.


Dalam kitab Ad-Durur al-Manshur disebutkan bahwa jumlah jin yang datang kepada Rasulullah SAW itu sebanyak tujuh jin. Sementara itu, menurut Ibnu Mas'ud sebagaimana dikutip Syekh Abdul Mun'im Ibrahim, dalam kitabnya Ma Qabla Khalqi Adam dan telah diterjemahkan dengan judul Adakah Makhluk Sebelum Adam? Menyingkap Misteri Awal Kehidupan, jumlah mereka sebanyak sembilan dan salah satu dari jin itu bernama Zauba'ah.
Responsif Dalam kitab Fath al-Bari bi syarh Shahih al-Bukhari bab Dzikru al-Jin disebutkan, pemimpin para jin itu bernama Wirdan. Para jin itu berasal dari Nasibain, yaitu sebuah daerah yang terletak di perbatasan antara Negara Irak dan Suriah, yaitu di dekat Mosul. Menurut Abdullah ibnu Umar, ayat Alquran yang dibacakan Rasulullah SAW ketika itu adalah surah Ar-Rahman. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada bagiku selain golongan jin yang lebih baik dalam merespons surah Ar-Rahman daripada kalian."

Para sahabat bertanya, "Bagaimana bisa, ya Rasul?" Rasulullah menjawab, "Ketika aku membaca ayat `Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan,' para jin berkata, "Wahai Tuhan kami, tidak ada sedikit pun dari nikmat-Mu yang kami dustakan." Dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya mengenai bagaimana mereka (golongan jin) menafakuri dan menadaburi (menelaah dan mencerna) ayat-ayat Allah SWT.

Ketika ayat Alquran menanyakan sesuatu, para Jin itu dengan cepat merespons pertanyaan Allah.
Sementara itu, para sahabat masih terdiam dan terpaku mendengarkan ayat-ayat tersebut. Para jin lebih respek terhadap ayat yang banyak menggunakan kalimat istifham (pertanyaan) daripada manusia. Namun, diamnya para sahabat dalam merespons ayat Alquran ini masih lebih baik dibandingkan dengan orangorang kafir Quraisy yang enggan mengimani dan meyakini kebenaran Alquran dan ajaran Islam. Teguran Menurut Syauqi Abu Khalil dalam Atlas Al-Qur'an, surah Jin dan Al-Ahqaf itu memberikan teguran kepada orangorang kafir Quraisy dan Arab di Makkah yang terlambat merespons keimanan. Sementara itu, jin yang bukan berasal dari golongan manusia lebih cepat dalam menerima dan merespons dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW.

Sumber: Vivanews.com