home

Sabtu, 14 Mei 2011

UBI KELAPA (Dioscorea alata L.) SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF

A. Pendahuluan

Uwi atau ubi kelapa (Dioscorea alata L. syn. D. atropurpurea Roxb.) merupakan sejenis umbi-umbian pangan. Banyak kultivarnya yang memiliki umbi berwarna ungu sehingga dalam bahasa Inggris dikenal sebagai purple yam. Dalam bahasa Melayu dikenal sebagai ubi saja dan bersifat generik, sehingga nama bahasa Indonesia diambil dari nama bahasa Jawa untuk membedakannya dari jenis-jenis ubi yang lain. Uwi adalah tumbuhan merambat yang dapat mencapai panjang 10m. Daun berbentuk mata panah. Tumbuhan memiliki bunga tersusun majemuk, tumbuh dari ketiak daun, berumah satu. Bunga jantan tersusun rapat 1-3cm; bunga betina tersusun jarang, lebih panjang, 15-20cm; mahkota berwarna ungu dengan panjang 2mm. Ia dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan umbi akar (akar yang membesar) atau umbi udara (umbi yang keluar dari ruas batang). Umbi akarnya dapat berukuran sangat besar, dengan panjang lebih dari satu meter. Ubi Alabio adalah sebutan daerah Kalimantan Selatan untuk ubi kelapa atau 'Yam'(Dioscorea alata L.). Ubi Alabio merupakan tanaman perdu merambat dengan panjang mencapai 3-10 m. Tanaman ini memerlukan tiang panjat agar dapat tumbuh ke atas dan daunnya dapat melakukan proses fotosintesa dengan baik. Bentuk ubinya beragam yaitu bulat, panjang dan ada yang bercabang. Meskipun jenis ubi Alabio cukup banyak, namun secara nyata dapat dibedakan dari warna daging ubinya yaitu ubi merah/ungu (violet) dan ubi putih. Ubi Alabio merah mempunyai sirip batang dan ujung tangkai daun berwarna merah keunguan, bentuk ubi bulat dan menjari. Daging ubi Alabio merah ini mempunyai aroma harum jika direbus. Ubi Alabio putih memiliki sirip batang dan tangkai daun berwarna hijau keputihan, bentuk ubi panjang dan tidak memiliki aroma harum. Kulit ubi berwarna coklat, namun ubi merah warna kulitnya lebih tua (coklat kehitaman).

B. Varietas Lokal

Varietas-varietas lokal ubi Alabioa yang dibudidayakan petani di Kalimantan Selatan, diantaranya adalah ubi Habang Harum, ubi Kesuma (Jaranang), Ubi Tongkat (Tiang), ubi Ketan (Tongkol), ubi Nyiur, ubi Jawa, ubi Cina, ubi Putih, ubi Habang Carang.

Varietas ubi Putih memiliki bentuk ubi yang panjang, warna daging puith dan rasa ubi setelah direbus lembut. Ubi Habang Harum memiliki ubi bulat, merah keunguan dengan rasa lembut agak berlendir dan beraroma khas. Ubi Habang Carang memiliki ubi panjang bercabang, merah keunguan dengan rasa lembut agak berlendir, air rebusan berwarna merah. Di desa-desa uwi dianggap sebagai sumber pangan minor, biasanya dipotong-potong lalu direbus dan dimakan bersama-sama teh atau kopi. Dapat pula dihaluskan lalu dijadikan isi bakpia. Di Filipina ia dimasak dengan gula dan dijadikan dessert atau selai yang dinamakan ube halaya. Uwi juga menjadi bahan baku utama dessert yang dinamakan halo-halo. Penggunaan masa kini bahkan dipakai sebagai komponen rasa bagi es krim, susu, kue tar, serta cake (Anonim,2011)

C. BUDIDAYA

Ubi Alabioa dibudidayakan di lahan lebak dangkal dan tengahan dengan pola monokoltur atau monokultur dengan tanaman padi, jagung, lombok, dan terong yang dilakukan satu tahun sekali. Ubi Alabio termasuk tanaman yang tidak tahan genangan air dan menghendaki tanah gembur. Penanaman dilakukan pada bagian guludan surjan pada saat air mulai surut (menjelang musim kemarau) atau pada musim kemarau saat lahan kering. Meskipun tanaman ini dapat tumbuh pada taanah miskin, namun tanggap terhadap pemupukan.

Budidaya ubi Alabio dimuali dengan penyiapan bibit, dalam bentuk ubi. Ubi dipotong-potong dari semua bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan ubi untuk bibit makin besar pula hasil ubi. Bibit disemaikan terlebih dahulu, setelah keluar tunas ditanam di lahan. Satu bibit menghasilkan satu ubi. Penanaman ubi Alabo dilakukan pada bulan Mei-Juli dan dipanen bulan Oktober-Desember (umur panen sekitar 4-7 bulan). Ubi dipanen bila daun dan batang yang mulai mengering. Ubi Alabioa segar tahan disimpan hingga 6 bulan.

Budidaya tanaman ubi Alabio oelh petani masih dialkukan secara tradisonal, sehingga hasil yang diperoleh masih rendah yaitu 12-28 ton/ha. Produktivitas ini dapat ditingkatkan dengan penerapan teknologi usahatani yang tepat, antara lain penggunaan varietas, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi hasil ubi Alabio di lahan lebak berkisar antara 40-50 ton/ha. Usaha tani ubi Alabio di lahan lebak dapat memberikan pendapatan yang cukup tinggi dimana R/C rasio sebesar 3.59. Sumbangan tanaman ubi Alabio dalam sistem usaha tani di lahan tersebut antara 29.1-46.9 %. Harga ubi alabio warna merah lebih mahal 20-40 % daripada ubi warna putih. Demikian pula preferensi konsumen ubi Alabio warna merah lebih disukai (75-80 %) daripada waran putih (20-25%), karena ubi merah lebih manis daripada ubi putih. Sebagai olahan rumah tangga, ukuran ubi yang disukai adalah ukuran sedang antara 200-500 g, karena kemudahan dalam mengolah dengan peralatan rumah tangga yang ada.

D. Bahan Pangan Alternatif

Ubi Alabio merupakan sumber karbohidrat potensial yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, khususnya di lahan rawa dan di daerah-daerah kering. Disamping sebagai pangan pokok pendamping beras, juga memiliki potensi untuk industri pengolahan yang dapat menghasilkan berbagai produk olahan. Selain itu, dapat diandalkan untuk mendukung kecukupan panan dan sumber pendapatan bagi petani. Ubi Alabio dapat dijadikan alternatif penyediaan bahan pangan untuk mengurangi besaran konsumsi beras yang terus meningkat.

Saat ini pengolahan ubi Alabio masih sangat sederhana, yaitu diolah dengan cara digoreng, direbus/dikukus, atau diolah 'lempeng' (dibuat adonan manis, dicetak tipis, digoreng), 'perkedel'(dibuat adonan gurih. dicetak bulat, digoreng), kolak (dicampur dengan santan manis) dan sebagai campuran dalam pembuatan sayur yang dimasak dengan atau tanpa santan. Sebagai makanan, pokok ubi Alabio rebus dikonsumsi dengan lauk ikan.

Sebagai bahan pangan, ubi Alabio memiliki komposisi gizi yang cukup baik (Tabel 1). Selain sebagai sumber karbohidrat, ubi Alabio juga memiliki kandungan protein yang reatif tinggi.

KOMPONEN

UBI ALABIO PUTIH

UBI ALABIO MERAH

Air

Pati

Protein (%)

Serat Kasar (%)

Total gula (%)

77.55

11.30

2.71

1.36

2.80

83.16

11.07

1.57

1.44

4.48

Sebagai sumber karbohidrat, ubi Alabio perlu dikembangkan menjadi berbagai bentuk produk olahan agar lebih bervariasi, lebih menarik dalam penampilan dan rasa sehingga memenuhi selera masyarakat luas dan meningkatkan konsumsi dan citra ubi Alabio. Pengembangan dilakukan dengan mengolah ubi segar menjadi berbagai bahan pangan siap konsumsi (produk jadi). Pengembangan pangan menjadi produk setengah jadi antara lain sawut kering dan tepung. Pengolahan setangah jadi tersebut berpotensi dalam pengembangan agroindustri.

E. Produk Olahan

1. Keripik Ubi Alabio

Pembuatan keripik dilakukan dengan mengiris ubi (iris tipis atau runcing memanjang). Selain menjadi keripik goreng (produk jadi), dapat juga diolah menjadi keripik setengah jadi, yaitu keripik kering yang dapat disimpan dan digoreng saat akan dikonsumsi.

2. Sawut Ubi Alabio

Sawut merupakan produk setengah jadi berbentuk serpihan kering dengan adar air sekitar 20 %, tahan disimpan dan mudah dalam penyajian. Sawut dapat dikonsumsi sebagai makanan poko maupun dikonsumsi sebagai makanan sampingan. Cara penyajian adalah sawut disiram air panas dan diaduk, kemudian dikukus sekitar 15 menit hingga lunak. Sebagai makanan pokok (pengganti nasi), ubi kukus tersebut dapat dikonsumi bersama sayur dan lauk lainnya. Dalam penyiapan untuk makanan kecil, saut kukus tersebut dapat dicampur dengan larutan gula merah atau dengan menghancurkan sawut kukus dan dicampur dengan bahan lain (telur, terigu, gula) kemudian digoreng atau dikukus kembali sesuai selera.

3. Tepung Ubi Alabio

Tepung ubi Alabio dapat dimanfaatkan seperti halnya tepung lain, yaitu bahan baku produk kue/roti. Penggunaannya dapat dicampur dengan tepung terigu atau dicampur dengan kacang-kacangnan untuk meningkatkan nilai gizinya (berupa tepung komposit). Komposisi tepung campuran disesuaikan dengan jenis kue/roti yang akan dibuat dan selera. Tepung dibuat dengan menggiling bahan kering dan kemudian diayak. Kadar air tepung sekitar 10 % dan tahan disimpan beberapa bulan dalam kemasan plastik rapat.

4. Bahan Industri

Selain sebagai bahan pangan langsung dan bahan baku industri pangan, ubi Alabio berpotensi sebagai bahan baku industri lain, yaitu industri pati, alkohol, dan bahan obat-obatan. Jenis yang warna ubinya ungu digunakan untuk membuat bahan es krim.
(Sumber : Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Kal-Sel, balittra@telkom.net)

Sumber:

Anonim.2011. Uwi. http://id.wikipedia.org/wiki/Uwi (Di up date , Senin 28 Maret 2011)

Selasa, 05 April 2011

RAMBUTAN VARIETAS

Dibutuhkan segera:

Biji rambutan varietas Si nyonya dan varietas Rapiah
hubungi :
candra dewi
cp: 085643750348

PENTINGGGGGGGGGGGGGGGGG..................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Minggu, 27 Februari 2011

PENGARUH KOLKHISIN TERHADAP KERAGAMAN MORFOLOGI, SITOLOGI DAN PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN RAMBUTAN (Nephelium appeceum L.)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Prospek ekonomi yang cerah dari buah eksotic rambutan, ditandai dengan meningkatnya volume pasar ekspor 160% pada tahun 90-an. Buah rambutan yang laku di pasaran adalah buah rambutan yang sesuai selera konsumen (Kotler,1991). Untuk memenuhi selera konsumen petani rambutan menanam varietas yang disukai konsumen saja, dan menebang atau memetik yang tidak disukai dan tidak laku dipasaran. Varietas yang banyak dibudidayakan adalah varietas rapiah dan binjai. Dengan penanaman varietas secara meluas akan mereduksi jenis-jenis lain seperti si nyonya. Ini berarti pengurangan keragaman di dalam jenis atau plasma nutfah rambutan dan tidak sesuai dengan konsep pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Di Indonesia keragaman rambutan relative tinggi. Sudarso et. al. (1996) menuliskan bahwa terdapat 30 kultivar rambutan dan 9 diantaranya adalah jenis unggul. Salah satu kultivar rambutan yang secara tradisional disukai masyarakat ialah rambutan rapiah. Bersama dengan rambutan binjai, rambutan rapiah dapat digolongkan sebagai jenis rambutan terbaik di Indonesia. Buah dari pohon yang sulit untuk diperbanyak dengan cara pencangkokan ini tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya sangat bagus dengan kulit buah berwarna hijau-kuning-merah tidak merata, berambut agak jarang. Rambutan rapiah memiliki daging buah yang tebal, manis, agak kering, kenyal, ngelotok dan dapat bertahan sampai 6 hari setelah dipetik. Rambutan si nyonya, jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai terutama orang Tionghoa, dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi, warna kulit buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus dan rapat, rasa buah manis asam, banyak berair, lembek dan tidak ngelotok.

Peluang pengembangan budidaya rambutan masih terbuka luas dan permintaan yang cukup tinggi. Usaha peningkatan produksi ini hanya dapat tercapai apabila pertumbuhan tanaman dapat ditingkatkan menjadi lebih baik. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah memperlakukan benih rambutan dengan kolkisin. Oleh karena itu perlu adanya suatu pengembangan tanaman rambutan untuk meningkatkan kualitas dan produksi buah. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan pemutasian gen , melalui radiasi mata tunas rambutan binjai (Sudarso et. al. 1999) dan perendaman dengan larutan kolkhisin (poliploidisasi).

Kolkisin (C22H25O6N) merupakan alkaloid yang mempengaruhi penyusunan mikrotubula, sehingga salah satu efeknya adalah menyebabkan penggandaan jumlah kromosom tanaman (terbentuk tanaman poliploid). Tanaman poliploid memiliki pola pertumbuhan,ciri morfologi, anatomi, genetik, fisiologi, dan produktivitas yang berbeda dibandingkan dengan tanaman diploidinya. Umumnya kenampakan tanaman dan produktivitasnya lebih baik, sehingga secara ekonomis lebih menguntungkan (Burns, 1972). Oleh karena untuk menghasilkan tanaman dengan keragaman morfologi, sitologi yang berbeda dan produktivitasnya tinggi dilakukan penelitian dengan perlakuan kolkhisin pada beberapa benih varietas rambutan.

B. Perumusan Masalah

Rambutan (Nephelium sp.) merupakan tanaman buah hortikultural berupa pohon dengan famili Sapindacaeae. Tanaman buah tropis ini dalam bahasa Inggrisnya disebut Hairy Fruit berasal dari Indonesia. Hingga saat ini telah menyebar luar di daerah yang beriklim tropis seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin dan ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim sub-tropis. Dari survey yang telah dilakukan terdapat 22 jenis rambutan baik yang berasal dari galur murni maupun hasil okulasi atau penggabungan dari dua jenis dengan galur yang berbeda. Ciri-ciri yang membedakan setiap jenis rambutan dilihat dari sifat buah (dari daging buah, kandungan air, bentuk, warna kulit, panjang rambut). Dengan adanya perlakuan kolkhisin pada benih rambutan merupakan salah satu usaha untuk membentuk varietas rambutan unggul dan produktivitas yang tinggi.

Berdasarkan uraian di atas, yang akan diteliti sebagai berikut.

1. Bagaimana pengaruh kolkisin terhadap keragaman morfologi dan sitologi jumlah kromosom tanaman rambutan?

2. Bagaimanakah respon pertumbuhan awal tanaman rambutan dengan perlakuan kolkhisin?

3. Berapakah konsentrasi kolkhisin yang tepat untuk peningkatan jumlah kromosom (poliploidisasi) tanaman rambutan?


C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Memperoleh informasi mengenai pengaruh perlakuan kolkhisin terhadap keragaman morfologi sitologi dan pertumbahan awal varietas rapiah dan Si nyonya tanaman Rambutan.

2. Memperoleh informasi respon pertumbuhan awal tanaman rambutan jika diberi perlakuan kolkhisin.

3. Memperoleh informasi mengenai konsentrasi yang tepat untuk peningkatan jumlah kromosom tanaman rambutan.


D. Hipotesis

Pemberian kolkisin berpengaruh terhadap keragaman morfologi sitologi jumlah kromosom (ploidi) dan pertumbuhan awal tanaman rambutan (Nephelium appaceum Linn.).

II. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan Februari 2011 sampai selesai di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, dan Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.


B. Bahan dan Alat Penelitian

1. Bahan Penelitian: biji tanaman rambutan varietas rapiah dan Si nyonya, pasir, tanah, pupuk kandang., kolkhisin, aquadest, alkohol, asam asetat glacial 45 %, HCL 1 N, Asetoorcein 2%, gliserin , cat kuku dan kapas.

2. Alat: bak perkecambahan, polibag ukuran 25 x 25 cm, saringan, pengaduk tanah, paranet, nampan kecil, botol flakon, gelas beker, pipet,silet, gelas benda, gelas penutup, silet, kuas, pipet, pinset, oven, lemari pendingin, kertas tissue, kertas label kamera foto dan mikroskop cahaya.


C. Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis secara deskripsi komparatif (data kualitatif) sedangkan data fenotipe (morfologi) yang merupakan data-data kuantitatif dianalisis dengan uji F taraf 5% dan apabila ada hasil yang berbeda nyata maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%.

Selasa, 01 Februari 2011

"Saksi Keimanan Bangsa Jin"

Sekelompok Jin menyatakan keislamannya yang diterangkan dalam Alquran surah Jin ayat 1-2. "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin mendengarkan Alquran. Lalu, mereka berkata: "Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Karena itu, kami memercayainya dan kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapa pun juga." Peristiwa ini terjadi saat Rasul SAW bersama para sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh. Ketika itu, Rasul SAW membaca surah Ar-Rahman [55] ayat 1-78. Dalam surah Ar-Rahman ini terdapat beberapa ayat yang berbunyi, "Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Ketika ayat ini dibacakan, para jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun.

Se
gala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami." Ibnu Mas'ud menyatakan bahwa ia ikut menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini. Rasulullah SAW bersabda, "Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu, kami pergi bersamanya, dan aku bacakan Alquran kepada mereka." Peristiwa ini terjadi di sebuah masjid yang terletak di kampung Ma'la, tak jauh dari pekuburan kaum Muslim di Kota Makkah. Dan kini, masjid itu dinamakan dengan Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai'ah. Sebab, di tempat inilah para jin berbaiat atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan Kitab-Nya.
Masjid ini menjadi monumen terpenting antara Rasulullah SAW dan para jin. Konon pada saat itu, para Jin berencana menuju Tihamah. Namun, mereka mendengar bacaan Alquran. Mereka sangat takjub mendengarnya, dan kemudian berdialog dengan Rasulullah SAW, lalu menyatakan keimanannya. Mereka kemudian menyampaikan hal itu kepada kaum jin. Penyampaian para jin yang berbaiat dengan Rasul SAW itu diabadikan dalam Alquran surah Al-Ahqaf [46]: 29-32.

Dalam Asbab an-Nuzul karya Jalaluddin as-Suyuthi disebutkan sebab-sebab diturunkannya surah Al-Ahqaf ayat 29-32. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas'ud. Ketika Rasulullah SAW sedang membaca ayat-ayat Alquran, ada beberapa jin (sejumlah riwayat menyebutkan jumlahnya ada sembilan jin dan sebagian lain menyebutkan tujuh jin) yang turut mendengarkan bacaan Alquran dari Rasulullah SAW. Kemudian, salah satu dari jin itu mengingatkan teman-temannya, "Diamlah, perhatikan bacaannya." Sesudah itu mereka kembali kepada kaumnya untuk mengingatkan mereka pada jalan yang benar.


Dalam kitab Ad-Durur al-Manshur disebutkan bahwa jumlah jin yang datang kepada Rasulullah SAW itu sebanyak tujuh jin. Sementara itu, menurut Ibnu Mas'ud sebagaimana dikutip Syekh Abdul Mun'im Ibrahim, dalam kitabnya Ma Qabla Khalqi Adam dan telah diterjemahkan dengan judul Adakah Makhluk Sebelum Adam? Menyingkap Misteri Awal Kehidupan, jumlah mereka sebanyak sembilan dan salah satu dari jin itu bernama Zauba'ah.
Responsif Dalam kitab Fath al-Bari bi syarh Shahih al-Bukhari bab Dzikru al-Jin disebutkan, pemimpin para jin itu bernama Wirdan. Para jin itu berasal dari Nasibain, yaitu sebuah daerah yang terletak di perbatasan antara Negara Irak dan Suriah, yaitu di dekat Mosul. Menurut Abdullah ibnu Umar, ayat Alquran yang dibacakan Rasulullah SAW ketika itu adalah surah Ar-Rahman. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada bagiku selain golongan jin yang lebih baik dalam merespons surah Ar-Rahman daripada kalian."

Para sahabat bertanya, "Bagaimana bisa, ya Rasul?" Rasulullah menjawab, "Ketika aku membaca ayat `Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan,' para jin berkata, "Wahai Tuhan kami, tidak ada sedikit pun dari nikmat-Mu yang kami dustakan." Dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya mengenai bagaimana mereka (golongan jin) menafakuri dan menadaburi (menelaah dan mencerna) ayat-ayat Allah SWT.

Ketika ayat Alquran menanyakan sesuatu, para Jin itu dengan cepat merespons pertanyaan Allah.
Sementara itu, para sahabat masih terdiam dan terpaku mendengarkan ayat-ayat tersebut. Para jin lebih respek terhadap ayat yang banyak menggunakan kalimat istifham (pertanyaan) daripada manusia. Namun, diamnya para sahabat dalam merespons ayat Alquran ini masih lebih baik dibandingkan dengan orangorang kafir Quraisy yang enggan mengimani dan meyakini kebenaran Alquran dan ajaran Islam. Teguran Menurut Syauqi Abu Khalil dalam Atlas Al-Qur'an, surah Jin dan Al-Ahqaf itu memberikan teguran kepada orangorang kafir Quraisy dan Arab di Makkah yang terlambat merespons keimanan. Sementara itu, jin yang bukan berasal dari golongan manusia lebih cepat dalam menerima dan merespons dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW.

Sumber: Vivanews.com