Bukan Memaksa Anda Meminta kepada Allah
“… Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon
kepada-Ku...” (QS. al-Baqarah: 186)
Suatu hari Luqman “bingung”… “Kenapa ketika seseorang ibadah kepada Allah, malah
lalu enggak boleh minta sama Allah?”
(-) Loh, memangnya siapa yang mengatakan enggak boleh minta?
(+) Ya orang-orang.
(-) Orang yang mana?
(+) Ya yang mengatakan, “Ibadah-ibadah saja… jangan minta-minta sama Allah.”
“Tahajjud, tahajjud saja, jangan tahajjud sebab pengen minta ini minta itu sama Allah.”
Atau, “Sedekah-sedekah saja. Masa sih sedekah karena pengen sesuatu. Salah tuh.”
Orang-orang seperti ini nih yang saya bingungkan, kata Luqman.
(-) Loh, kenapa kamu “menyerang” mereka-mereka itu? Bukannya mereka itu bagus? Dan
mengajarkan kemurnian ibadah?
(+) Ya, bagus-bagus saja. Tapi kalau mengajarkan keikhlasan sambil menyekat hamba-Nya
dari Allah, apakah masih bagus disebutnya?
(-) Tapi siapa juga yang menyekat? Kan mengajarkan keikhlasan?
(+) Apa coba sebutannya buat mereka yang melarang hamba-Nya meminta sama Allah? Apa
bukan menyekat tuh? Memberi dinding antara seorang hamba dengan Allah?
(-) Ya, enggak gitu sih.
(+) Enggak gitu gimana?
(-) Ini’kan sekadar mengajarkan keikhlasan. Gitu loh.
(+) Guru saya pernah bilang, bila ada yang mengajarkan kebaikan, tapi di saat yang sama
mengajarkan keburukan, itulah setan?
(-) Maksudnya?
(+) Ya setan’kan masuk lewat pintu ilmu. Satu sisi mengajarkan perbuatan baik harus
dilakukan dengan keikhlasan. Tapi di sisi yang lain, seseorang tidak diperbolehkannya
meminta sama Allah. Apa ini bukan kerjaan setan?
(-) Wah, terlalu jauh tuh. Masa menyamakan mereka yang berpendapat seperti itu seperti
setan?
(+) Ya enggak sih. Tapi’kan begitu cara kerjanya setan. Halus banget. Kita enggak berani
ngebantah perkataan, “ibadah-ibadah saja, jangan minta-minta sama Allah.” Iya’kan?
Enggak berani? Sebab kalau berani membantah berarti tidak ikhlas?
(-) Iya juga sih.
(+) Gini... boleh enggak meminta sama Allah?
(-) Boleh.
(+) Meminta itu berdo’a bukan?
(-) Ya... sama dengan berdo’a.
(+) Jadi... boleh nih berdo’a?
(-) Ya, bolehlah... malah jadi ibadah.
(+) Ok, malah jadi ibadah ya?
(-) Ya... jadi ibadah.
(+) Terus... boleh enggak seseorang yang tidak ibadah meminta sama Allah?
(-) Maksudnya?
(+) Boleh enggak seseorang yang tidak shalat misalnya, lalu dia berdo’a kepada Allah?
(-) Boleh saja... berdo’a’kan tidak mempersyaratkan apa pun, kecuali sebagai akhlak.
(+) Jadi, boleh nih, seorang preman misalnya, berdo’a kepada Allah?
(-) Ya... boleh.
(+) Walau dia tidak shalat?
(-) Ya, boleh... meski dia tidak shalat, dia berhak berdo’a.
(+) Lah, lalu kenapa orang yang menempuh jalan tahajjud, menempuh jalan sedekah, lalu
jadi tidak boleh meminta?
(-) Iya juga ya... kenapa jadi tidak boleh?
(+) Situ sendiri’kan yang bilang... sedekah-sedekah saja, tahajjud-tahajjud saja, jangan
minta-minta sama Allah?
(-) Bener.
(+) Padahal, mestinya kalimat yang benar itu begini... “tidak tahajjud saja boleh meminta,
apalagi tahajjud. Tidak sedekah saja boleh meminta, apalagi bila bersedekah.”
(-) Bener.
(+) Dari tadi bener-bener melulu?
(-) Lah, memang bener.
(+) Sekarang siapa yang bingung?
(-) Ya enggak bingung... saya benar, situ benar.
(+) Maksudnya?
(-) Beribadah karena sesuatu’kan jadinya tidak ikhlas?
(+) Yah, itu mah namanya kembali kepada pertanyaan semula.
(-) Kembali bagaimana?
(+) Yah, di depan’kan ditanya, boleh enggak meminta sama Allah tanpa ibadah?
(-) Oh... dialog di depan tadi?
(+) Ya iyalah... dialog yang tadi, masa harus balik lagi?
(-) Jadi... gimana?
(+) Ikhlas itu jangan dikaitkan dengan meminta. Bila seseorang meminta kepada Allah,
jangan dikatakan tidak ikhlas dong?
(-) Lalu, mestinya dikatakan apa buat seseorang yang bersedekah lantaran dia susah?
(+) Dikatakan kepadanya, “Dia menempuh jalan yang diberitahu Allah dan Rasul-Nya.”
(-) Oh... gitu ya?
(+) Ya... begitu. Ketika Allah bilang bahwa Allah akan membantu yang mau membantu
sesama, lalu ada seorang yang keluar dari rumahnya membantu orang lain karena dia
kepengen kesusahannya dibantu Allah, Masa salah?
Bukankah ini berarti dia mempraktikkan cara-cara Allah bila kepengen dibantu. Dan
berarti dia dapat pahala tersendiri, yaitu pahala menjawab seruan Allah, pahala nurut
sama Allah, pahala percaya sama Allah.
(-) Tapi’kan enggak bener dong.
(+) Enggak bener pegimana?
(-) Kok aneh ya, ibadah’kan harusnya murni, ikhlas?
+) Ya itu tadi... sebab pemahaman ikhlasnya kali yang salah. Mestinya ikhlas itu adalah
tidak dikaitkan dengan do’a, dengan permintaan. Kasihan hamba-hamba-Nya Allah yang
memang kepengen sesuatu dari Allah, dan Allah memang membuka pintu-Nya, dan
murah memberi hadiah kepada hamba-Nya yang mau menegakkan ibadah. Lebih
kasihan lagi kepada orang-orang yang tidak tahu bagaimana caranya merayu Allah.
(-) Jadi, tetap disebut ikhlas nih, bila seseorang beribadah karena sesuatu?
(+) Kalimatnya barangkali begini, orang itu punya tauhid yang bagus. Punya iman yang
bagus. Karena percayanya dia sama cara yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya, lalu dia
tempuh jalan itu. Gitu. Secara simpelnya, disebut tidak ikhlas itu kalau ia ngomongin dia
punya amal ke kiri dan ke kanan dengan maksud riya atau sombong, sum’ah/berbangga
diri. Kalau ke Allah mah namanya do’a, harapan, permintaan, munajat.
(-) Iya juga ya... apalagi meminta itu’kan ibadah juga ya?
(-) Nah... berarti kalau seseorang mau sedekah, dan ia punya permintaan, berarti ada dua
ibadah?
(+) Betul... ibadah “sedekah” dan ibadah “meminta”.
(-) Dapat dua pahala ya?
(+) Ya... dapat dua keutamaan.
(-) Paham saya sekarang.
(+) Masa?
(-) Iya.
(+) Lalu masih menyalahkan orang yang bersedekah lantaran proyeknya pengen lancar?
(-) Masih.
(+) Lah?
(-) Ya iya... namanya juga bingung.
(+) Ya sudah... bingung saja terus.
(-) Ya soalnya memang tetap bingung.
(+) Iya... enggak apa-apa. Kan enggak maksa supaya situ mau minta sama Allah. Jadi, ya
enggak apa-apa bingung juga. Silahkan saja. Kalau saya mah enggak bingung. Bagi
saya, saya percaya sama Allah. Percaya sama cara-cara-Nya Allah. Allah bilang, kalau
mau begini, begitu. Kalau mau begitu, begini. Lalu saya ikuti itu. Ini namanya tunduk,
patuh, dan taat. Sekali lagi, ini namanya keutamaan dari percaya sama Allah.
sumber.kuliahonline wisatahati.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar